Showing posts with label Esai. Show all posts
Showing posts with label Esai. Show all posts

Sunday, February 7, 2021

Sastra: Sebab Kode adalah Puisi

Eka Kurniawan *
Kompas, 11 Mei 2008
 
SEKIRANYA Borges masih hidup, barangkali ia akan menjadi penulis paling getol online. Bagaimana tidak, banyak orang yang percaya, sebelum internet ditemukan, Borges telah ”memimpikan” dunia internet dalam cerita-cerita pendeknya. Ingat perihal ensiklopedia yang disusun secara diam-diam oleh sekelompok orang sehingga menghasilkan dunia yang baru? Bukankah hal ini sekarang menjadi mungkin dengan perangkat lunak wiki sebagaimana dipergunakan di wikipedia.org? Atau perihal teks yang bisa merujuk ke teks lain tanpa batas? Sejak ditemukan internet, kita sudah mengenal ”link”.

Monday, April 6, 2020

Litera-tour ala Panji Tisna

Sigit Susanto *

“Sastra?Baru-baru ini saya membeli karya lengkap dari Molieré seharga 9 Frank, kemudian saya pergi membeli pizza untuk dimakan seharga 17 Frank,“ (Gion Mathias Cavelty).

Umbu Landu Paranggi di Depanku

Sigit Susanto

Pertemuan dengan Umbu Landu Paranggi

Wayan Jengki Sunarta

Sabtu, 10 Agustus 2013, Umbu Landu Paranggi genap berusia tujuh puluh tahun. Sejak tahun 1979 dia menetap di Bali dan mengasuh banyak penyair muda menemukan jati dirinya di dunia puisi. Umbu tidak hanya memerhatikan puisi, dia juga diam-diam mengikuti perkembangan seni lainnya, semisal seni rupa, teater, musik, bahkan kesenian tradisional Bali. Dia mengagumi Ni Reneng, penari legong terkenal dari Kelandis, Denpasar dan juga mengagumi Gede Geruh, maestro penari Gambuh dari Denpasar.

Saturday, January 18, 2020

MENUJU INSTITUSI APRESIASI SASTRA, MUNGKINKAH?

Kurnia Effendi

Sebuah media maya yang kemudian membangun dunia maya, menurut saya hampir menjadi kehidupan lapis kedua. Berjalan paralel dengan kehidupan yang kita jalani sehari-hari. Mengapa demikian ? Ada sejumlah kegiatan komunikasi yang begitu intens, bahkan sepertinya kita benar-benar mendengar suara “di sana” yang sedang bercakap-cakap dengan kita melalui tulisan. Ada nada riang, bersemangat, sendu, sinis, meledak-ledak, nylekit, dan banyak lagi, yang kia tangkap dari kalimat-kalimat itu.

Menelusuri Jejak Situs-situs Sastra di Dunia Maya (Bagian 1)

Haris Firdaus

Beberapa tahun belakangan, eksistensi website atau situs sastra—sebagai media sosialisasi sastra—bisa dikatakan benar-benar redup. Selepas debat soal “sastra cyber” lewat, pelan-pelan eksistensi website sastra yang menampung dan menerima kiriman karya sastra makin tertelan hiruk pikuk sastra di lembaran-lembaran koran. Akhirnya kita harus mengakui: koran tetap menjadi “pilihan utama” mempublikasikan karya sastra. Sadar atau tidak, koran bahkan menjadi “patokan pertama” dalam menilai perkembangan sastra Indonesia hari ini.

Thursday, November 28, 2019

Menyusuri Dunia, Menekuri Kafka – Sigit Susanto, Penulis Indonesia di Swiss *

Dari Boja Sigit Susanto Bawa Sastra Susuri Dunia

Sigit Susanto membaca puisi di acara Syawalan Jemuran Puisi. (Inibaru.id/ Audrian F).

DINAMIKA SASTRA CYBER

Sihar Ramses Simatupang
Copyright Sinar Harapan 2008

Kehadirannya disambut dengan antusiasme oleh masyarakat. Salah satu bentuknya adalah dengan kehadiran bermacam-macam komunitas yang dipertemukan oleh minat terhadap sastra. Selain situs cybersastra, milis penyair, bumi manusia, dan bunga matahari, salah satu komunitas yang eksis hingga saat ini adalah Apresiasi- Sastra (biasa disebut Apsas).